Sudah tak terhitung saya membaca, mendengar pendapat orang bahkan sempat "diadili" tentang cara berpakaian muslim. Dengan 1001 dalil, baik dalil aqli maupun dalil naqli, atau bisa juga dalil awur2an dan nekad, untuk mengatakan bahwa iman itu cukup di dalam hati. Bukan di baju dan penampilan.
Sudah sangat sering saya mendengar upaya untuk "membumikan islam" sehingga tampilan islam itu seperti orang asli Indonesia, jangan "krubyuk-krubyuk" seperti orang Arab. (Walaupun sampai saat ini tak ada yang bisa jelaskan ke saya, seperti apa pakaian Indonesia asli itu).
Sudah sangat sering mendengar bahwa jilbab dan sorban adalah budaya Arab belaka. Tidak perlu ditiru.
Bahkan pada suatu hari saya pernah didudukkan oleh dosen2 agama Islam, ketika melihat saya berjubah, dan dikatakan apa yang saya lakukan itu "kosong" nggak ada pahalanya. Yang nanti saya akan menyesal di akhirat bahwa apa yang saya sangka berpahala ternyata "gabug" tanpa isi. (Padahal pernah suatu hari saya memakai kaos McLaren Marcedes, tapi kok nggak ditegur yahh...)
Tapi saya tetap berpegang teguh bahwa meniru nabi, walaupun nggak ada pahalanya, tetap lebih baik daripada meniru pemain bola, bintang film, selebritis. Sampai saat ini, saya juga belum bisa istiqamah mencontoh pakaian ala Nabi karena kelemahan dan kekurangan diri. Setiap hari masih suka berpakaian kaos dan T-shirt yang nyaman.
Tapi paling tidak saya tetap yakin, bahwa pakaian kita adalah identitas kita yang menunjukkan bahwa kita orang islam.
Saya masih ingat di tahun 1990an, pas ikut wisata sekolahnya bapak saya ke Bali. Waktu itu ibu saya memakai kerudung sekedarnya. Maklum jilbab belum memasyarakat seperti sekarang. Pas kita masuk rumah makan, kita nggak sempat check itu punya muslim atau bukan. Ternyata kita masuk rumah makan orang Bali. Begitu kita mulai masuk, maka pemilik warung dengan sopan berkata, maaf, ibu muslimah kan? Saya menjual daging yang tidak halal.
Pemilik warung mengenali kami berdasar pakaian sibu saya.
Pada suatu hari, entah kenapa saya kok memakai kopiah putih padahal biasanya tidak. Di sebuah klub bahasa Jepang, tiba-tiba sensei-sensei berdiri berjajar dan menyapa saya ASSARAMUARAIKUM.... Saya kaget dengan salam memakai mahroj Jepang ini. Ternyata mereka mengenali saya muslim berdasar kopiah yang saya pakai.
Kemarin pas ada acara konseling anak anak sekolah di sekolah Ghozi dan Furqon, ketika kami duduk, translator menyapa kami, good afternoo, konichiwa, Assalamu alaikum. Benar-benar mereka mengenali kami yang muslim.
Adanya orang berbusana muslim yang korupsi, jahat dan sebagainya merupakan amunisi bagi golongan "risih dengan pakaian muslim" untuk menyerang. Padahal konsepnya tidak seperti itu. Gak ada hubungan antara pakaian dengan akhlak memang. Pakaian adalah independent. Meniru cara berpakaian adalah wujud dari cinta. Sebagaimana bonex Suroboyo yang bangga dengan pakaian kaos warna ijo persebaya. Atau arema dengan kaos singo edan nya.
Keidentitasan pakaian dan aksesoris tercermin dari kenapa pas saat idul fitri semua dibuat bernuansa islami. Padahal fitri kan cukup hatinya. Demikian juga pas natal di mana mana terdengar lagu krisma lengkap dengan topi santa nya. Ketidakkonsisten nya golongan "high level tolerance" adalah mereka sering mengecam orang yang bertahan dengan pakaian muslim dengan dalih iman cukup di hati, sekarang malah tidak memberi empati kepada muslim yang tidak mau memakai atribut natal di tempat kerja.
Bukan kota ini yang membuat aku cinta
Tapi karena Laila berada di sini
(Semalam di kota Laila)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar